Mama, Aku Harus Pergi Bab 1

Mama, Aku Harus Pergi
 BAB 1

         Hari Sabtu pagi. Terdengar keributan bagai kumbang lepas dari sarangnya. Pasukan cilik dalam balutan baju seragam coklat-coklattua di depan kelas IIIA itu rami berceloteh. Tidak bisa diam. Sebuah tangansibuk merogoh-rogoh kantong rok nya,berussaha mengeluarkanpermen. Siapa tahu masih senpat di makan sebelum mereka tiba di lapangan. Jari-jemari yang putih mungil merayap di balik meja kemeja pramuka seorang anak perempuan berkacamata yang terlihat sangat serius membaca  buku. The Adventures of Tomm Sawyer, Petualangan seorang anak laki-laki bernama tom yang meyaksikan sebuah pembunuhan bersama teman ya,Huckleberry Finn. Karena ketahuan,merekakemudian berlindung ke sebuah pulau. regina terlalu asyik membayangakan diri ya menjadi seorang penjelajah pulau sampai tiba-tiba ketahan rasa geli mencapai puncak. Ia merinding dan meggeliat resah, tidak senang dan tiba-tiba menoleh ke belakang dengan marah,mata melotot."ada apa sih??" Bentaknya
         Regina saputri Dahlan meltot padaseorang anak berambut coklat kekuningan dengan raut wajah bagai bulan, bulat, berkeringat, agak tembam, dan bermata jenaka.Pria kecil itu tersenyum menampilkan giginya yang tinggal dua di tengah dan melihat ke arahnya dengan tatapan tak bersalah
         Menyebalkan,Pikir Regina. Ia segera Membalikkan badanya yan kurus dan berusaha membaca lagi dari balikkacamata berbingkai ktak hitam, matanya sudah minus satu. terlalu cepat, menurut namanya,namun apa bloeh buat. Regina terlalu banyak membaca.
         Membaca dan Membaca.
         Kemampuan kosakatannya di atas rata-rata.menyamai seorangwartawam yang baru lulus sekolah junarlistik.
          ia adalah seorang jenius kecil dengan mata besar, kulit putih halus, lembut, dangan rambut hitam panjang, hidung mungil termaksud mancung, dan wajah agak bulat. Manis, serius, imut-imut, dan cantik, dengan bentuk tubuh indah bagai remaja yang sudah berkembang. Singkatnya, ia bertumbuh liat dan elok seperti wanita mudayang baru merekah, namun masih terperangkap dalam tubuh seorang anak kecil
         Mungil dan kurus. kadang-kadang ia suka nakal juga. nakal nya anak kecil.
      Regina tidak mau dikatakan anak kecil, meskipun ia juga tidakmerasa dirinya Dewasa. Masih Delapan Tahun Hmm...
        "Cie... buku inggris loh!" terdengah suara menggodakembali dari belakang, dan sekali ini, sang nona kecil marah . Ia menutup bukunya dengan keras, mengangkatnya dengan dua tangan, kemudianke atas kepala Roni, anak di belakangnya, dengan dua tangannya, "Berisik!" matanya mendelik marah
      "Regina!"  suara mis Katherina memanggilnya. Lembut namun TEGAS. Regina membalik badannya pelan.
             "Giliranmu!" Miss katherina yang bertubuh agak gemuk dengan pipi penuh dan mata sabar menatapnya.
             Regina mengangguk " Ya,Miss" Ia melihat barisan di depannya kosong. Murid-Murid tang lain sudah berjalan mendahuli nya ke lapangan, tempat mereka akan di berikan wejangan tentang kepramukaan, Ia cepat-cepat menyelipkan bukunya ke balik baju kemudian melangkah dengan lincah ke depan, tersenyum NAkal pada Miss Katherina.
             "Buku di simpan dalam kelas dulu!" Gurunya menegur.
             Regina mendesah dan berjalan gintai melewati sang guru menuju ke dalam kelas yang berdinding krem pucat dengan garis coklat muda di tengah. ia cepat-cepat berlari ke mejanya yang terletakpaling belakang di tengah,  meletakkan bukunya baik-baik didalam tasnya, memastikan tidak ada  unungnya yabg terjepit, kemudian berlari keluar, menuju lapangan
             Ia mengeryit saat merasa hawa panas matahari menerjang kulit nya dengan cepat-cepat menyelinap ke dalam barisan.meinjak kaki teman-temannya dan memaksa mereka mundur beberapa langkah.
             Tepat pada waktunya
             Kepala sekolah mereka, seorang suster yang sudah tua, kecil, agak bungkuk, dan berkacamata tebal yang sangat mengutamakan disipli melangkah naik ke atas podiumdengan pelan, menyeret kaki-kaki gemuk nya satu demi satu kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh sekolah, seluruh sekolah anak kelas I sampai III menahan nafas mereka dan menunduk kepala, berharap-harap  cemas 'sang Naga' tak menyemburkan api di pagi hari itu. Setidaknya tiap satu dari sepuluh anak yang berada di sana berdoa bahwa sang suster bangun pagi dengan perasaan segar
             Terdengar bunyi dengusannya. Mereka sudah tahu. Anak-anak laki-laki yang tidak membawa topi pramuka. Mereka akan menjadi parade ketedoran sendiri di muka Publik. Sebuah ajang untuk nyali. Mereka akan di apajng dideoan, diatas panggung kecil di sisi kiri, dengan satu kaki di angkat selama upacara. Setidak nya selama lima belas menit tang memalukan.
             Regina berusaha mengintip dari barisannya , mencari tahu apakah murid yang terkena hukuman itu dari kelasnya atau bukan.
Terdengar bunyi dengusannya. Mereka sudah tahu. Anak-anak laki-laki yang tidak membawa topi pramuka. Mereka akan menjadi parade ketedoran sendiri di muka Publik. Sebuah ajang untuk nyali. Mereka akan di apajng dideoan, diatas panggung kecil di sisi kiri, dengan satu kaki di angkat selama upacara. Setidak nya selama lima belas menit tang memalukan.
             Regina berusaha mengintip dari barisannya , mencari tahu apakah murid yang terkena hukuman itu dari kelasnya atau bukan.
           Ups. Roni yang menyebalkan ternyata yang tidak membawa topinya. Mata anak laki-laki dengan perut buncit itu melirik nelangsah ke arah kelasnya dan matanyabersiborok pandangan dengan Regina.
          Ia Menjulurkan lidahnya dan membuat mimik jelek, membuat Regina terkikik pelan dan cepat-cepat menutup mulutnya.
          Terlambat
           Sang kepala sekolah telah mendengar. Dengan cepat Ia memalingkan Wajahnya ke Bariskan mereka. " Siapa yang barusan Terkikik?!". tanya marah
          Katherina yang sadar bahwa atasanya sedang menatapke arah kelasnya segera memberi tanda pada komandan upacara untuk menyiapkan barisan. Seorang laki-laki kelas lima yang bertubuhtegap segera menganggukan kepala, ingin cepat-cepat mengakhiri upacara
           Suster kepala menyerah saat mendengar aba-abanya
          Diam-diam, Regina menarik nafas lega
          "Makanya, Regina kalau mau bertindak itu mikir-mikir dulu" Cakap teman di sebelah nya, " ia teringat mama" Cakap Regina. "Selalu spontan dan sering tanpa pikir, Makanya kamu sering jatuh, sering ketabrak. Selalu sajaterlalu bersemangat dan melupakan Keadaan" Cakap teman di seblah nya lagi. Si jenius mem buat mimik dengan wajah selama beberapa saaat, kemudian berusaha menyimak jalanya upacara, berdiri dengan tenang.
          Lima belas menita terasa bagai satu jam dengan kaki pegal di tengah siraman matahari pagi
          Namun Akhirnya semua selesai juga.
          Regina mengerucutkan bibir dan menghembuskan nafas Lega.  Langkahnya mulai bergerak meninggalkan lapangan. Ia sempat melirik ke aras jajaran anak-anak yang di hukum  dan melihat temanya itu melirik ke arahnya.
          Regina cepat-cepat membuang muka dan tidak melihat anak laki-laki itu tersnyum-senyum padanya
Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar